Ironi "Rumah Guru" di Pebayuran: Lima Tahun Dibangun Swadaya, Kini Terbengkalai Bak Gedung Tak Bertuan - KUPAS TUNTAS NEW

Rabu, 11 Februari 2026

Ironi "Rumah Guru" di Pebayuran: Lima Tahun Dibangun Swadaya, Kini Terbengkalai Bak Gedung Tak Bertuan


 

KUPAS TUNTAS NEW || BEKASI

Kondisi Gedung PGRI Kecamatan Pebayuran, Kabupaten Bekasi, memicu kritik tajam dan keprihatinan mendalam. Gedung yang digadang-gadang sebagai simbol martabat para pendidik ini dinilai jauh dari kata layak untuk disebut sebagai "Rumah Guru". Mirisnya, meski pembangunannya telah berjalan selama lima tahun melalui dana swadaya murni para guru, fasilitas tersebut kini justru tampak seperti bangunan yang diabaikan oleh pemerintah daerah. Kamis, 12 Februari 2026.

Berdasarkan pantauan di lokasi, kondisi fisik gedung sangat memprihatinkan. Tidak hanya kekurangan fasilitas penunjang, gedung ini bahkan tidak memiliki pekarangan yang memadai. Halaman yang seharusnya menjadi ruang terbuka hijau atau area aktivitas guru kini justru disesaki ilalang dan rumput liar yang menjulang tinggi, menciptakan kesan kumuh dan tidak terawat.

Kondisi ini memicu pertanyaan besar mengenai di mana kehadiran Pemerintah Kabupaten Bekasi dalam mendukung kesejahteraan dan martabat para guru di Pebayuran.

"Sangat menyakitkan melihat gedung yang dibangun dari keringat dan swadaya para guru selama lima tahun ini dibiarkan merana. Ini bukan sekadar masalah rumput liar, tapi masalah penghargaan terhadap profesi guru. Bagaimana mungkin pemerintah daerah menutup mata terhadap fasilitas organisasi profesi yang dibangun secara mandiri?" ujar salah satu simpatisan pendidikan di Bekasi.

Evaluasi Kepedulian Pemkab Bekasi: Mendesak Pemerintah Kabupaten Bekasi untuk tidak lepas tangan terhadap sarana prasarana organisasi guru.

Revitalisasi Fasilitas: Meminta adanya bantuan nyata untuk perbaikan gedung dan penataan halaman agar layak digunakan sebagai pusat kegiatan edukasi dan koordinasi guru.

Transparansi Dukungan: Mempertanyakan alokasi anggaran pendidikan yang seharusnya bisa menyentuh perbaikan fasilitas pendukung seperti Gedung PGRI di tingkat kecamatan.

Gedung PGRI seharusnya menjadi tempat yang membanggakan, tempat bagi para pencerdas bangsa bernaung dan berdiskusi. Namun, realita di Pebayuran justru menunjukkan sebaliknya: sebuah monumen pengabaian yang dibiarkan ditelan semak belukar.

Para guru telah memberikan segalanya melalui swadaya. Kini saatnya pemerintah menunjukkan keberpihakan mereka, atau membiarkan gedung ini tetap menjadi bukti nyata kegagalan daerah dalam menghargai "Pahlawan Tanpa Tanda Jasa".

Team Redaksi 

Comments


EmoticonEmoticon

Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done