KUPAS TUNTAS NEW || BANGGAI LAUT
Tragedi berdarah yang menimpa Muh. Faisal Taib, Kaperwil Sulawesi Tengah Media Cyber Nasional sekaligus Agen Merah Putih, bukan sekadar tindak pidana biasa. Lima tusuk sangkur dari bandar sabu bernama Bakri di Dodung pada Minggu (11/01) adalah proklamasi perang terhadap negara dan kemerdekaan pers.
Insiden ini memicu kecaman keras dari jajaran pimpinan pusat Media Cyber Nasional yang menilai ada pembiaran sistematis terhadap peredaran narkoba di Banggai Laut.
Pernyataan Tegas Pemilik Media & Tokoh Merah Putih
Bapak Boby Irawan, tokoh Merah Putih sekaligus pemilik Media Cyber Nasional, menyatakan bahwa insiden ini merupakan bukti nyata matinya supremasi hukum di wilayah tersebut.
"Darah pejuang Merah Putih tumpah karena kebiadaban bandar yang merasa kebal hukum. Jika seorang Kaperwil Media Nasional saja bisa diserang secara terbuka, bagaimana dengan rakyat kecil? Ini adalah bukti nyata bahwa polisi di sana gagal! Saya mendesak Presiden dan Kapolri segera mencopot pejabat kepolisian yang membiarkan bandar sabu berpesta di pemukiman warga. Jangan sampai muncul asumsi bahwa aparat justru menjadi pelindung bagi para perusak bangsa!" tegas Boby Irawan.
Kritik Pedas Pimpinan Redaksi: "Hentikan Sandiwara Penegakan Hukum!"
Jhon, Pimpinan Redaksi Cyber Nasional, menegaskan bahwa 5 tusukan terhadap Faisal adalah upaya pembunuhan berencana untuk membungkam investigasi media terkait sindikat narkotika.
"Kami tidak butuh basa-basi belasungkawa dari aparat. Kami butuh tindakan! Bagaimana mungkin bandar sabu bisa bermarkas tepat di samping sekolah (SDN Inpres 04 Dodung)? Di mana fungsi intelijen? Di mana patroli Polres Banggai Kepulauan? Ini bukan kelalaian, ini adalah kegagalan total dalam menjaga Kamtibmas. Kami menuntut pelaku dijerat pasal berlapis: Percobaan Pembunuhan Berencana dan UU Narkotika. Jika kasus ini menguap, kami akan menggerakkan seluruh jaringan nasional untuk turun ke jalan!" ujar Jhon.
DAFTAR DOSA KEAMANAN DI BANGGAI LAUT (Tuntutan Redaksi):
Pembiaran Sindikat di Samping Sekolah: Keberadaan rumah bandar di sebelah SDN Inpres 04 Dodung adalah tamparan keras bagi Pemerintah Daerah dan Kepolisian. Ini membuktikan bahwa lingkungan pendidikan pun sudah terkontaminasi oleh kejahatan narkoba akibat absennya pengawasan aparat.
Krisis Wibawa Aparat: Penyerangan terhadap wartawan dan Agen Merah Putih menunjukkan bahwa pelaku kriminal sama sekali tidak memiliki rasa takut terhadap hukum di wilayah hukum Sulawesi Tengah.
Desakan Evaluasi Jabatan: Redaksi mendesak Kapolda Sulteng untuk segera mengevaluasi kinerja Kapolres Banggai Kepulauan dan Kasat Narkoba. Kami menilai wilayah tersebut telah menjadi "zona nyaman" bagi para bandar.
Pasal Berlapis, Bukan Penganiayaan Biasa: Redaksi mengawal ketat penyidik agar tidak "main mata" dalam penerapan pasal. Lima tusukan di area vital adalah bukti niat menghabisi nyawa (dolus), bukan sekadar perkelahian biasa.
Hingga saat ini, Muh. Faisal Taib masih berjuang antara hidup dan mati di bawah penanganan tim medis. Seluruh jaringan Media Cyber Nasional di seluruh Indonesia menyatakan status Siaga Satu untuk memantau perkembangan kasus ini.
"Satu tusukan terhadap wartawan kami tidak akan menghentikan ribuan berita. Darah Faisal adalah bahan bakar kami untuk terus membongkar sarang penyamun di Banggai Laut!"
Team Redaksi PRIMA
