KUPAS TUNTAS NEW || JAKARTA PUSAT
Di tengah stagnansi peran lembaga keagamaan dalam menjawab isu sosial perkotaan, Muhamad Ali resmi terpilih sebagai Ketua Dewan Masjid Indonesia (DMI) Ranting Kelurahan Duri Pulo periode 2026–2031 dalam pemilihan yang digelar di Gedung DMI Wali Kota Jakarta Pusat, Minggu (18/4/2026).
Meski prosesi diklaim berjalan lancar melalui mekanisme musyawarah, terpilihnya Ali menyisakan pertanyaan besar: Sejauh mana kemandirian DMI Duri Pulo di bawah bayang-bayang fasilitas pemerintah daerah?
Publik kini menyoroti apakah kepemimpinan Muhamad Ali mampu mendobrak tradisi "masjid hanya untuk ibadah ritual". Dengan anggaran dan pengaruh yang besar, DMI Duri Pulo dituntut untuk tidak lagi hanya menjadi pelengkap administrasi di tingkat kelurahan.
“Ini adalah amanah besar. Saya berharap kita bekerja sama memajukan masjid sebagai pusat ibadah dan kegiatan sosial,” ujar Ali dalam sambutannya. Namun, tantangan riil di Jakarta Pusat—mulai dari masalah kemiskinan kota hingga pembinaan generasi muda—membutuhkan lebih dari sekadar retorika sinergi.
Pelaksanaan pemilihan yang dilakukan di Gedung Kantor DMI Wali Kota Jakarta Pusat juga memicu kritik halus mengenai independensi organisasi. DMI Ranting seharusnya menjadi representasi murni suara akar rumput jamaah, bukan sekadar organisasi yang "jinak" terhadap arahan birokrasi di atasnya.
Masyarakat Duri Pulo menunggu langkah konkret:
1. Transparansi Anggaran: Bagaimana pengelolaan dana hibah atau swadaya masjid dikelola secara terbuka?
2. Solusi Sosial: Apakah masjid di bawah DMI akan menjadi lumbung pangan dan solusi ekonomi bagi warga miskin di Jakarta Pusat?
3. Independensi Politik: Menjelang tahun-tahun politik, mampukah Ali menjaga masjid tetap steril dari kepentingan pragmatis penguasa daerah?
Masa bakti 2026–2031 adalah waktu yang panjang. Muhamad Ali tidak memiliki kemewahan untuk sekadar melakukan "bisnis seperti biasa" (business as usual). DMI Ranting Duri Pulo harus membuktikan bahwa mereka adalah motor penggerak umat, bukan sekadar stempel legalitas bagi program-program pemerintah daerah yang sering kali tidak menyentuh akar rumput.
Keberhasilan Ali tidak akan diukur dari meriahnya acara pemilihan, melainkan dari seberapa berisiknya masjid-masjid di Duri Pulo dalam menyuarakan keadilan sosial dan kesejahteraan umat yang selama ini terabaikan oleh hiruk-pikuk pembangunan kota.
Team Redaksi
